Studi Kasus · Konstruksi & Kontraktor

Proyek berjalan. Datanya yang tertinggal.

Pekerjaan lancar. Tapi setiap Sabtu malam, data seminggu direkap ulang.

BysCore KontraktorBysHRImplementasi custom
Tim proyek berhelm dan berompi keselamatan berjalan di lokasi konstruksi gudang
Tantangan

Tidak ada catatan yang tersusun saat pekerjaan terjadi. Gaji tukang tiap Sabtu, tagihan supplier, dan penagihan ke pemberi kerja selalu dimulai dari mengumpulkan ulang angka yang sebenarnya sudah ada.

Yang kami pasang

Estimasi, jadwal, lapangan, dan uang disambung jadi satu jalur: absensi langsung jadi gaji mingguan, pembayaran vendor menempel ke pekerjaannya, bobot dihitung dari anggaran, dan foto menempel ke titik bernomor di denah.

Yang berubah

Angka tidak lagi disusun ulang saat ditanya, karena sudah terkumpul sejak pekerjaan dilaporkan. Dampak angkanya belum kami ukur.

Masalahnya

Proyeknya banyak, nilainya besar, semuanya jalan. Tapi setiap pertanyaan dijawab dengan kalimat yang sama: “sebentar, saya cek dulu.”

Kontraktor ini tidak sedang bermasalah dalam pengertian biasa. Tukang datang, pekerjaan maju, termin dibayar.

Yang tidak ada cuma satu: tempat di mana semua itu tercatat sambil berjalan. Berapa, sudah sampai mana, sudah dibayar belum. Semua jawabannya harus dicari dulu.

Yang mahal bukan pertanyaannya, melainkan jarak antara pertanyaan dan jawabannya.

Sabtu malam yang selalu larut

Tukang dibayar mingguan, setiap Sabtu. Yang berat bukan menghitungnya, tapi bahannya yang baru dikumpulkan hari itu: siapa masuk hari apa, lembur berapa jam, kasbon berapa, siapa harian dan siapa borongan.

Datanya ada, di catatan mandor, kertas lapangan, dan ingatan orang. Tapi tersebar. Jadi setiap Sabtu berakhir larut malam, dan minggu berikutnya diulang dari awal.

Sumber utama

Setiap angka disusun ulang saat ditanya

Supplier menagih: invoice ini sudah dibayar atau belum? Jawabannya baru ada setelah catatan pembayaran dicocokkan satu per satu.

Sebaliknya, menagih pemberi kerja butuh hitungan bobot per pekerjaan, laporan, dan mapping area yang dikerjakan. Semuanya dirakit saat tagihan hendak dikirim, bukan terkumpul sepanjang pekerjaan berjalan.

Akibatnya penagihan tertunda bukan karena pekerjaannya belum selesai, tapi karena buktinya belum sempat dirakit. Yang tertahan bukan pekerjaan, tapi uang masuk.

Pekerjaan selesai, tapi tidak bisa diperlihatkan

Foto proyek justru terlalu banyak: ratusan menumpuk di galeri, tanpa ada yang tahu itu sudut mana dan diambil kapan.

Pemberi kerja cuma minta satu hal: sebelum dan sesudah, untuk satu titik tertentu. Biasanya tidak ada dua foto dari sudut yang cukup mirip untuk dibandingkan.

Yang kami kerjakan

BysCore Kontraktor · BysHR

Akar masalahnya satu. Jadi yang dikerjakan bukan menambal keluhan satu per satu, melainkan menyambung bagian-bagian yang selama ini berdiri sendiri menjadi satu jalur.

  1. 01Estimasi

    Anggaran per divisi dan per baris pekerjaan, masing-masing dengan analisa harga satuan: bahan, upah, alat. Dua harga dipantau sampai proyek selesai: harga jual ke pemberi kerja dan harga pokok sendiri.

  2. 02Jadwal

    Tiap pekerjaan punya durasi dan ketergantungan. Kurva S terbentuk sendiri: rencana lebih dulu, realisasi menyusul.

  3. 03Lapangan

    Supervisor mengabsenkan dengan foto berstempel dan membagi tim ke pekerjaan hari itu. Volume selesai dilaporkan dari HP dan langsung menggerakkan kurva S di kantor, tanpa diketik ulang.

  4. 04Uang

    Setiap pembayaran ke vendor dan tukang menempel ke pekerjaannya, jadi untung rugi tidak menunggu akhir proyek.

  5. 05Pemberi kerja

    Portal menampilkan progres dan foto, tanpa memperlihatkan biaya internal.

Sebelum & sesudah

Yang berubah.

Dulu: Gaji Sabtu: bahan hitungan dicari malam itu juga
Sekarang: Absensi seminggu masuk ke gaji harian atau borongan, lalu dikunci dalam satu tindakan, termasuk kasbon dan lembur
Dulu: Tagihan supplier: dicocokkan ulang satu per satu
Sekarang: Tiap pengadaan menyimpan status bayarnya, lengkap dengan ringkasan total yang belum dibayar
Dulu: Penagihan progres: bobot, laporan, dan mapping dirakit di akhir
Sekarang: Bobot rencana dan realisasi dihitung sendiri dari anggaran dan progres lapangan; mapping digambar langsung di atas denah
Dulu: Foto: ratusan di galeri, tanpa sudut yang sama
Sekarang: Titik kamera bernomor di denah, lengkap dengan arah bidikan, jadi sebelum dan sesudah bisa disandingkan

Gaji tetap dihitung, supplier tetap menagih, pemberi kerja tetap diberi laporan. Yang berubah adalah kapan angkanya terkumpul: dulu saat dibutuhkan, sekarang sejak pekerjaannya dilaporkan. Kami sengaja tidak mencantumkan angka penghematan waktu. Dampaknya belum diukur, dan angka yang belum diukur tidak kami pajang.

Studi kasus berikutnya · Distribusi & GrosirPenjualan kuat. Tapi di mana uangnya hari ini?

Bisnis Anda mengalami hal yang sama?

Ceritakan cara kerja Anda sekarang. Kami tunjukkan bagian mana yang bisa tersambung lebih dulu.

Diskusi via WhatsApp