01Sabtu malam yang selalu larut
Tukang dibayar mingguan, setiap Sabtu. Yang berat bukan menghitungnya, tapi bahannya yang baru dikumpulkan hari itu: siapa masuk hari apa, lembur berapa jam, kasbon berapa, siapa harian dan siapa borongan.
Datanya ada, di catatan mandor, kertas lapangan, dan ingatan orang. Tapi tersebar. Jadi setiap Sabtu berakhir larut malam, dan minggu berikutnya diulang dari awal.
02Sumber utamaSetiap angka disusun ulang saat ditanya
Supplier menagih: invoice ini sudah dibayar atau belum? Jawabannya baru ada setelah catatan pembayaran dicocokkan satu per satu.
Sebaliknya, menagih pemberi kerja butuh hitungan bobot per pekerjaan, laporan, dan mapping area yang dikerjakan. Semuanya dirakit saat tagihan hendak dikirim, bukan terkumpul sepanjang pekerjaan berjalan.
Akibatnya penagihan tertunda bukan karena pekerjaannya belum selesai, tapi karena buktinya belum sempat dirakit. Yang tertahan bukan pekerjaan, tapi uang masuk.
03Pekerjaan selesai, tapi tidak bisa diperlihatkan
Foto proyek justru terlalu banyak: ratusan menumpuk di galeri, tanpa ada yang tahu itu sudut mana dan diambil kapan.
Pemberi kerja cuma minta satu hal: sebelum dan sesudah, untuk satu titik tertentu. Biasanya tidak ada dua foto dari sudut yang cukup mirip untuk dibandingkan.